Calendar Rabu, Juli 23, 2014
Text Size
   

Translate Bahasa

Indonesian Afrikaans Albanian Arabic Bulgarian Catalan Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch English French German Greek Hungarian Icelandic Italian Japanese Korean Latvian Macedonian Maltese Norwegian Persian Portuguese Romanian Russian Serbian Spanish Swedish Thai Turkish Ukrainian Vietnamese

Potensi Wisata

Gambar
Wisata Sejarah
Sabtu, 11 Agustus 2012
MUSEUM BUNG KARNO Sempatkan waktu Anda untuk mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama berkunjung ke Ende. Rumah beratap seng ini berada di... Selengkapnya...
Gambar
Wisata Alam
Jumat, 10 Agustus 2012
RIWAYAT TERBENTUKNYA Gunung Kelimutu (1650 m dpl) tumbuh di dalam Kaldera Sokoria atau Mutubusa bersama dengan G. Kelido (1641 m dpl) dan G.... Selengkapnya...
Gambar
Wisata Khusus
Jumat, 10 Agustus 2012
Perkembangan wisata minat khusus telah menjadi tren internasional. Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, juga... Selengkapnya...
Gambar
Wisata Budaya
Jumat, 10 Agustus 2012
Berbagai peninggalan sejarah, perkampungan tradisional serta atraksi budaya yang terwariskan secara baik tersebar luas di wilayah Kabupaten Ende 

Pesan Anda

Sidney
Thanks a bunch! This is an outstanding web-site!

Here is my weblog - quest bars
Rabu, 23 Juli 2014
Katharina
Passion the website-- extremely user pleasant and whole lots to see!


My page :: healthybloodsugarlevels
Rabu, 23 Juli 2014
Tressa
Thanks intended for delivering these sort of terrific posting.


Also visit my web blog ... Лондон Англия (http://8.dk)
Rabu, 23 Juli 2014
Kattie
Just needed to tell you I am lucky I stumbled on the site!


Here is my web blog :: quest bars
Rabu, 23 Juli 2014
Terence
For up-market travelers, Azamara Club Cruises Һas pioneered lօnger stays аnd moгe overnights in ports to ensure tɦɑt passengers ǥet the most out of eνery destination. Ι've neνer seen "Twelfth Night" (Amanda Bynes in "She's the Man", enjoyable tɦough it աas, does not quitе count) and have οnly read it once, but tҺe prog...
Rabu, 23 Juli 2014

Komentar

Wisata Sejarah
Addthis

MUSEUM BUNG KARNO

Sempatkan waktu Anda untuk mengunjungi Rumah Pengasingan Bung Karno selama berkunjung ke Ende. Rumah beratap seng ini berada di daerah Nggobe, tepatnya di Jalan Perwira, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sinilah Anda dapat meresapi bagaimana Bung Karno menjalani keseharian hidupnya bersama keluarga diasingkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda selama 4 tahun (1934-1938). Di balik perjuangannya selama pengasingan, Ende telah membenamkan kesan mendalam bagi Bapak Pendiri Bangsa Indonesia ini.

Ende telah terkenal ke mancanegara jauh sebelum Taman Nasional Komodo dikunjungi wisatawan. Akan tetapi, saat Bung Karno datang ke sini dahulu, Ende ibarat kota mati dengan jalanan kecil belum beraspal. Saat itu rumah penduduk pun masih jarang dan wilayahnya masih berupa hutan, kebun karet, dan tanaman rempah-rempah. Belum ada pelabuhan laut apalagi transportasi udara di Ende saat itu.

Rumah yang menghadap ke timur di Pelabuhan Ende ini awalnya milik Haji Abdullah Ambuwaru yang kemudian dikontrak oleh Bung Karno. Luas bangunannya 9 x 18 meter persegi, memiliki tiga kamar yang berderet di sisi kanannya. Satu kamar tidur untuk Bung Karno, satu kamar untuk Ibu Inggit bersama Ibu Amsih, dan satu kamar lagi untuk ruang tamu.

Di belakang rumah ini juga ada sebuah ruangan yang sering digunakan Bung Karno untuk salat dan bermeditasi. Masih membekas dua telapak tangan Bung Karno ketika ia bersujud. Ada juga sebuah sumur yang airnya masih dapat digunakan hingga sekarang.

Tidak banyak yang berubah dari bentuk asli rumah yang dibangun tahun 1927 itu, kecuali saja atap sengnya yang diganti karena bocor. Rumah ini sejak tahun 1954 resmi dijadikan museum dan setelah Indonesia merdeka, Bung Karno sudah tiga kali berkunjung, yaitu tahun 1951, 1954 dan 1957. Tahun 1952 rumah ini pernah dijadikan Kantor Sosial Daerah Flores dan tempat bersidang DPRD Flores.

Di Rumah Pengasingan Bung Karno ini dapat Anda jumpai beragam barang rumah tangga yang dahulu digunakan Bung Karno. Saat Anda berkunjung disarankan Anda dipandu untuk mendapatkan penjelasan dan kisah menarik di baliknya. Bapak Musa adalah seorang penjaga yang dapat Anda sewa sebagai pemandu. Musa adalah cucu Abu Bakar, yaitu seorang pemain sandiwara dari naskah tonil yang dibuat Bung Karno. Saat itu ada 47 anggota dari grup tonil Kelimoetoe yang dibentuk oleh Bung Karno.

Setelah mengisi buku tamu dan membayar tiket Rp 2.500 maka Anda akan melewati pintu berdaun ganda. Di ruang tamunya terdapat kursi rotan dan satu meja bundar yang biasa Bung Karno gunakan untuk menjamu tamunya. Di dinding rumah tergantung lukisan sosok Soekarno karya Affandi yang mulai pudar. Ada pula lukisan Pura Bali yang dibuat Bung Karno tahun 1935. Beberapa foto Bung Karno bersama keluarga dan teman-temannya terpajang juga.

Di sebuah lemari kaca ada dua tongkat kayu yang biasa dibawa Bung Karno dimana ujungnya berkepala kera. Tongkat tersebut digunakan Bung Karno apabila bertemu dengan Pemerintah Hindia Belanda. Bung Karno tidak membalas hormat penguasa Hindia Belanda dengan anggukan tetapi dengan mengarahkan tongkatnya yang berkepala kera. Cara ini sebagai simbol bahwa sifat penjajah hanya bisa dihargai oleh binatang dan tidak oleh sesama manusia.

Dalam lemari kaca juga tersimpan naskah tonil karya Bung Karno dalam map berwarna oranye. Selama di Ende, Bung Karno menghasilkan 13 naskah tonil, diantaranya adalah: “Dokter Setan”, “Aero Dinamik”, “Jula Gubi”, dan “Siang Hai Rumbai”. “Rahasia Kelimutu”, “Tahun 1945”, “Nggera Ende”, “Amuk”, “Rendo”, “Kutkutbi”, “Maha Iblis”, dan “Anak Jadah”. Naskah-naskah tonil tersebut digunakan Bung Karno untuk mengobarkan semangat rakyat merebut kemerdekaan. Pementasan dramanya saat itu dilakukan di Gedung Imakulata, milik Paroki Katedral Ende yang  lokasinya berada di Jalan Irian. Sayang, kondisinya saat ini rusak parah.

Sangat disayangkan, sebagian naskah tonil karya Bung Karno saat ini tidak jelas keberadaannya. Yang tersimpan di Ende hanya ada 7 naskah salinan dari Ibrahima Umarsjah (almarhum), yaitu mantan asisten sutradara Bung Karno.

 

BUNG KARNO MERENUNG DI BAWAH POHON SUKUN


Pernahkah Anda membaca buku biografi Bung Karno karya Cindy Adams yang berjudul, “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”? Dalam buku itu ditulis bahwa Bung Karno gemar merenung di bawah pohon sukun (Artocarpus communis) yang menghadap ke laut.

Pohon aslinya kini sudah tiada karena tumbang oleh angin. Kini, pohon itu berganti dengan pohon sukun baru yang ditanam sejak 17 Agustus 1981 tepat pukul 9 pagi. Penanamannya melalui upacara dihadiri sekitar 40 orang teman Bung Karno yang pernah mendampinginya di Ende tahun 1934.

Pohon sukun tersebut lokasinya 100 meter dari Rumah Pengasingan Bung Karno. Tepatnya di Lapangan Perse (sekarang dinamakan Lapangan Pancasila). Oleh sebagian masyarakat pohon tersebut dianggap keramat dan lebih dikenal sebagai Pohon Pancasila.

Menurut cerita masyarakat, saat hari panas maka Bung Karno sering duduk berteduh di bawah pohon sukun tersebut sambil memandangi daun sukun yang bergigi lima buah dan bersudut lima pada setiap sisinya.

Di bawah pohon itu Bung Karno merenungkan dasar negara Indonesia yang kelak menjadi Pancasila. Pemikiran Bung Karno di Ende sudah meliputi semua sila Pancasila. Saat itu, Bung Karno menyebut sebagai Lima Butir Mutiara. Tidaklah salah apabila Ende disebut sebagai Rahim Pancasila. Ende telah memberi pengaruh besar bagi Bung Karno, terutama kerukunan hidup antarumat beragama di Ende.

Sumber :www.indonesia.travel

 

NAPAK TILAS JEJAK SOEKARNO

ENDE 1934 – 1938

 

Pada 14 Januari 1934, Bung Karno dan keluarganya tiba di Pulau Bungan Flores tepatnya di Kota Ende, sebuah kota kecil di pesisir selatan Pulau Flores. Tidak ada yang istimewa. Bukanlah suatu kejadian atau peristiwa yang besar yang jika di Pulau Jawa akan dfiwartakan ke media massa manakala Bung Karno tiba disuatu tempat. Kebanyakan masyarakat Ende yang sederhana dan yang jauh dari jangkauan media berita itu seakan tidak pernah ada.

Sekitar pukul 08.00 pagi waktu setempat KM. Van Riebeeck membuang sauh di Pelabuhan Ende. Sebelumnya Gubernur Jenderal Belanda di Jakarta telah menetapkan Pulau Bunga Flores sebagai tempat pembuangan Bung Karno. Dikawal tentara Belanda Bung Karno kemudian diantar menuju sebuah pesanggerahan Belanda yang kini menjadi markas POM ABRI kurang lebih Lima ratus meter dari pelabuhan. Kemudian Bung Karno kembali ke pelabuhan menjemput istrinya Ny. Inggit Gunarsi, mertuanya, bu Amsi dan anak angkatnya Ratna Juami. Bung karno menunju kepesanggerahan dengan mencarter mobil mengangkut keluarga dan barang bawaannya. Pengemudi mobil bernama Ibrahima sangat kagum terhadap Bung arno dan menolak menerima bayaran. Ibrahima Umarsjah merupakan salah satu teman dekat Bung Karno selama beliau di Ende. Selama masa pembuangan di Ende Pak Jae Bara, Pak Ibrahima dan beberapa sahabat dekat menjadi pengawal pribadi yang bertanggung jawab atas keselamatan Bung Karno sekeluarga.

Hari- hari yang di lalui selama di Ende sangatlah tidak mengembirakan buat Bung Karno sampai keluar pernyataannya ” Kenapa Flores? Kenapa di sini?” Ibu Inggit adalah satu- satunya orang yang memberikan ketegaran kepada Bung Karno dan Ia merasa betul- betul kehadiran seorang wanita yang memberikan ketenangan hati dan pikiran serta kasih sayang. Terkadang Ia mengeluh “ Aku menjadi seekor burung elang yang telah dipotong sayapnya,” Pantaslah keluhan itu muncul dari hati yang ikhlas Bung Karno. Dalam segala hal Ende waktu itu bukanlah Jawa. “ Dalam segala hal maka Ende, di Pulau Bunga yang terpencil itu bagiku menjadi ujung dunia. Jalan rayanya sebuah jalanan yang tidak diaspal yang ditebas melalui hutan. Di musim hujan lumpurnya menjadi berbungkah- bungkah. Dan apabila matahari yang menghanguskan memancarkan dengan terik, maka bungkahan- bungkahan itu menjadi keras dan terjadilah lobang dan aluran baru. Ende dapat dijalani dari ujung ke ujung dalam beberapa jam saja.”

Selama di Ende, Bung Karno dan keluarganya menempati sebuah rumah di tengah perumahan penduduk biasa. Rumah ini milik Haji Abdullah Ambuwaru, di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kota Ratu.

Rumah yang bakal ditempati tidak bernomor. Dikelilingi rumh penduduk beratap ilalang, jalanan sangat sederhana, tidak ada listrik, air leding, apalagi telepon dan telegram. Satu- satunya ialah memanfaatkan dua kapal pos yang singgah di Ende sekali sebulan.

Betapa besar penderitaan batin yang harus ditanggung. Bagi Bung Karno yang telah terbiasa dengan irama perjuangan Ende ibarat ambang kematian. Di Ende disamping kesepian, ketiadaan teman berdiskusi dan massa yang siap mendengarkan pidato- pidatonya Bung Karno mengakui, “ Di Flores semangatku berada dalam kurungan.”

Tinggal di rumah sederhan Bung Karno mulai mendekati masyarakat sekitarnya. Kota adalah teman pertama Bung Karno bersama Darham seorang tukang jahit. Selama di tempat pengasingan di Ende seluruh kebutuhan hidup menjadi tanggung jawab Bung Karno. Untuk membantu ekonomi keluarga Bung Karno sekeluarga terpaksa menjual bahan pakaian yang didatangkan dari sebuah perusahan tekstil si Bandung. Bung Karno sendiri yang datang kerumah- rumah menawarkan dagangannya.

Acapkali Bung Karno Mandi di Sungai Wolowona sekitar sepuluh Kilo dari tempat tinggalnya. Tempat itu disebut “ Rende Wea “ Apabila tiba di sungai Bung Karno menyuruh pengikutnya menunggu ditepi sungai sementara beliau sendiri menjauh beberapa meter untuk mencari kolan yang aman dibalik batu besar. Pemandangan yang setring terjadi dan menjadi tontonan menarik menurut salah satu pengikutnya Hamid Dhepi kemudian menjadi Kepala Desa Rewarangga seekor burung rajawali dengan suara melengking terbang dari hulu lalu merendah dan bertengger diatas batu yang dibaliknya Bung Karno tengah mandi. Pengikutnya tahu kalau rajawali terbang kembali keudara dan terus kehutan rimba dihulu dan menghilang itu tanda bahea Bung Karno sudah selesai mandi.

Selain itu Bung Karno memperluas jaringan persahabatan dengan para pastor di Ende. Dengan itu Bung Karno bisa kapan saja datang untuk mempergunakan perpustakaan para pastor. Bung Karno juga bersahabat dengan beerapa pedagang turunan Cina. Biasanya berfungsi sebagai kurir rahasia untuk menghubungkan Bung Karno dengan teman- teman perjuangannya di Pulau Jawa seperti dr. Sutomo dan Muhamad Thamrin. Surat- surat rahasia biasa dikirim melalui Ang Hoo Lian, seorang pedagang yang selalu berlayar Surabaya- Ende. Surat tersebut ditaruh dikeranjang sayur. Di Ende surat diserahkan kepada Sian Til yang empunya Toko De Leeuw sekarang menjadi Hotel Cendana.

Karena keseringannya berkumpul bersama sahabat- sahabatnya lahirlah perkumpulan sandiwara dengan nama Toneel Club Kelimutu atau Klub Tonil Kelimutu.Kelimutu nama Danau Tiga Warna yang terkenal di Kabupaten Ende. Selama pembuanganya Bung Karno menyelesaikan 12 naskah sandiwara. Pemainnya pun sukarela. Ali Pambe, seorang montir mobil sering dilatih berkali- kali sampai mencotoh bagaimana memerankan seseorang yang sudah mati. Setiap sandiwara membutuhkan empat puluh hari latihan.

Semua telah siap namun tempat pertunjukan tidak ada seperti biasanya Bung Karno memiliki seorang sahabat Pater G. Huijtink melihat Bung Karno murung dan kurang bersemangat. Sebagai teman Pater Huijtink langsung menenangkan Bung Karno itu soal mudah dan dapat diselesaikan.

Pater Huijtink membantu menyedikan Gedung Imakulata, gedung Paroki Kathedral bagi Bung Karno. Bung Karno mendapat bantuan cat dari Uskup Ende di Ndona untuk mencat layar dan lambing- lambing sandiwara. Sedangkan karcis sandiwara di setak di Percetakan Arnoldus milik pastor- pastor Serikat Sabda Allah ( SVD ).

Sandiwara pertama yang dipentaskan adalah “ Dr. Sjaitan “ mencerminkan tubuh Indonesia yang tidak bernyawa lagi dapat bangkit dan hidup kembali pada suatu waktu nanti. Sandiwara- sandiwara Bung Karno lebih bersifat revolusi fisik Indonesia untuk meraih kemerdekaan Indonesia. “ Indonesia’ 45 merupakan cerita Bung Karno untuk menyadarkan masyarakat Ended an Pulau Bunga pada umumnya akan perjuangan Indonesia merdeka. Sandiwara- sandiwara yang ditulis Bung Karno adalah Rendo, Rahasia Kelimutu, Jula Gubi, KutKutbi, Anak Haram jadah, Maha Iblis, Aera-Dinamit, Dr. Setan, Amuk, Sanghai Rumba, Gera Ende dan Indonesia ’45.

Addthis
 

Tulis Komentar Disini


Security code
Refresh